ASKEP MULTIPLE SKLEROSIS
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MULTIPEL SKLEROSIS
Deskripsi
Multipel sklerosis merupakan salah satu gangguan neurologist
yang paling sering ditemukan pada usia muda. Kasus ini sedikit lebih banyak
menyerang wanita dibandingkan dengan pria. Usia rata-rata penderita penyakit
ini adalah 30 tahun, dengan batas antara 18-40 tahun.
Sklerosis ditandai dengan adanya bercak kerusakan mielin
yang tersebar, diikuti dengan gliosis dari substansia alba sistem persarafan.
Bercak-bercak berwarna kekuning-kuningan dan keras yang ditemukan pada otopsi
dipakai sebagai sumber nama penyakit ini. Sifat perjalanan penyakit merupakan
serangkaian serangan pada berbagai bagian sistem saraf pusat. Setiap serangan
memperlihatkan derajat remisi tertentu tetapi secara menyeluruh gambarannya
adalah ke arah yang buruk. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Penyebab
Sifat mendasar gangguan yang menyebabkan multipel sklerosis
tidak diketahui dan selalu merupakan bahan spekulasi. Penyakit ini lebih sering
dijumpai pada daerah beriklim sedang (Eropa Utara dan Amerika Utara), dengan
insidens kurang lebih 10 per 10.000 penduduk. Penyakit ini jarang ditemukan di
daerah tropis tetapi multipel sklerosis juga jarang dijumpai di Jepang.
Penyakit ini sedikit lebih banyak ditemukan diantara keluarga yang pernah
menderita penyakit tersebut, yaitu kira-kira 6-8 kali lebih sering pada
keluarga dekat.
Masih dipertanyakan apakah meningkatnya kasus pada
keluarga diakibatkan oleh predisposisi genetik (tidak terdapat pola herediter)
atau disebabkan karena sering kontak dengan agen infeksi (mungkin virus) pada
masa kanak-kaqnak yang entah dapat menyebabkan multipel sklerosis pada waktu
mulai menginjak masa dewasa muda.
Penyelidikan migrasi menunjukkan bahwa jika orang dewasa
pindah dari tempat dengan risiko tinggi ke tempat dengan risiko rendah, mereka
tetap mempunyai risiko tinggi untuk menderita multipel sklerosis. Tetapi jika
migrasi terjadi sebelum mencapai usia 15 tahun, maka individu tersebut
mempunyai risiko yang rendah sesuai dengan tempat tinggalnya yang baru.
Data-data ini sesuai dengan teori yang menyatakan virus mungkin merupakan penyebabnya
dengan periode laten yang panjang antara paparan awal dengan awitan (onset)
penyakit. Mekanisme kerjanya mungkin merupakan reaksi autoimun yang menyerang
mielin.
Sejumlah virus diduga sebagai agen penyebab multipel sklerosis.
Oleh beberapa peneliti, virus campak (rubella) diduga sebagai virus penyebab penyakit
ini. Pada penderita multipel sklerosis ternyata serum dan cairan serebrospinal mengandung
berbagai antibodi campak serta ada bukti yang menyatakan bahwa zat inti
tersebut dihasilkan dalam otak.
Penyelidikan lain mengajukan kemungkinan adanya faktor-faktor
genetik sehingga ada orang-orang yang lebih rentan terhadap serangan berbagai
virus yang bereaksi lambat pada sistem saraf pusat. Virus lambat ini mempunyai
masa inkubasi yang lama dan mungkin hanya berkembang dalam kaitannya dengan
status imun yang abnormal atau terganggu.
|
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||
Pengkajian
Pengkajian keperawatan menunjukkan masalah yang aktual
dan risiko berkaitan dengan penyakit yang mencakup masalah neurologis,
komplikasi sekunder, dan pengaruh penyakit terhadap klien dan keluarga. Gerakan
dan kemampuan berjalan klien diobservasi untuk menentukan apakah ada
kemungkinan risiko jatuh. Pengkajian fungsi dilakukan baik ketika klien cukup
istirahat dan ketika mengalami keletihan. Perlu dikaji untuk adanya kelemahan,
spastisitas, kerusakan penglihatan, dan inkontinensia.
Anamnesis
Identitas klien meliputi nama, umur (lebih sering pada
kelompok dewasa muda, antara 18-40 tahun), jenis kelamin (lebih sering menyerang
wanita dibandingkan dengan pria), pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosis medis.
Kelihan utama yang sering menjadi alasan klien dan
keluarga untuk meminta pertolongan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak,
penurunan daya ingat, serta gangguan sensorik dan penglihatan.
Riwayat Penyakit Saat ini
Pada anamnesis, klien sering mengeluhkan parestesia
(baal, perasaan geli, perasaan “mati”, “tertusuk-tusuk jarum dan peniti”),
penglihatan kabur, lapang pandang semakin menyempit, dan mengeluh tungkainya seakan-akan
meloncat secara spontan terutama apabila ia sedang berada di tempat tidur.
Merasa lelah dan berat pada satu tungkai dan pada waktu berjalan terlihat jelas
kaki yang sebelah terseret maju, dan pengontrolannya kurang sekali.
Pada beberapa kasus, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien
sering bertingkah laku euforia, suatu perasaan senang yang tidak realistis. Ini
diduga disebabkan terserangnya substansia alba lobus frontalis. Pada tahap
lanjut dari penyakit, klien sering mengeluhkan retensi akut dan inkontinensia.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat
infeksi virus pada masa kanak-kanak. Namun hubungan riwayat infeksi virus yang
menyerang pada masa kanak-kanak belum diketahui bagaimana menyebabkan multiple
sklerosis pada waktu mulai menginjak masa dewasa muda. Virus campak (rubella)
diduga sebagai virus penyebab penyakit ini.
Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit ini sedikit lebih banyak ditemukan diantara keluarga
yang pernah menderita penyakit tersebut, yaitu kira-kira 6-8 kali lebih sering
pada keluarga dekat. Masih dipertanyakan apakah meningkatnya kasus pada
keluarga diakibatkan oleh predisposisi genetik (tak terdapat pola herediter).
Pengkajian Psikososial Spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai
respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran
klien dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau penyaruhnya dalam
kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Adanya
perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan untuk
berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi dan konsep diri didapatkan
klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, dan tidak
kooperatif. Perubahan yang terpenting pada klien dengan penyakit multipel sklerosis
adalah adanya gangguan afek, berupa euforia. Keluhan lain yang melibatkan gangguan
serebri dapat berupa hilangnya daya ingat dan demensia. Masalah-masalah emosi,
sosial, pernikahan, ekonomi, pendidikan yang dihadapi klien juga dapat menjadi
akibat dari penyakit.
Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada
keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari
pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6)
dan terarah dengan fokus pemeriksaan fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) dan
dihubungkan dengan keluhan-keluhan dari klien.
Keadaan Umum
Klien dengan multipel sklerosis umumnya tidak mengalami
penurunan kesadaran. Adanya perubahan pada tanda vital meliputi bradikardi,
hipotensi, dan penurunan frekuensi pernapasan yang berhubungan dengan bercak
lesi di medula spinalis.
B1 (Breathing)
Pada umumnya klien dengan multiple sklerosis tidak
mengalami gangguan pada sistem pernapasan. Pada beberapa klien yang telah lama menderita
multipel sklerosis akan mengalami gangguan fungsi pernapasan. Ini terjadi
akibat tirah baring dalam jangka waktu yang lama. Pemeriksaan fisik yang
didapat meliputi :
Inspeksi, didapatkan klien batuk atau mengalami penurunan kemampuan
untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak napas, dan penggunaan
otot Bantu napas.
Palpasi, didapatkan tektik premitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi, didapatkan adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
Auskultasi, didapatkan bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi,
stridor, ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret, dan kemampuan
batuk yang menurun yang sering didapatkan pada klien dengan inaktivitas.
B2 (Blood)
Pada umumnya klien dengan multipel sklerosis tidak
mengalami gangguan pada sistem kardiovaskular. Akibat dari tirah baring lama
dan inaktivitas biasanya klien mengalami hipotensi postural.
B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan
lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan
tingkah laku.
Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya compos mentis.
Pemeriksaan Fungsi Serebri
Status mental : biasanya status mental klien mengalami
perubahan yang berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi,
dan penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang. Adanya
gangguan afek berupa euforia merupakan tanda khas pada klien multipel
sklerosis.
Pemeriksaan Saraf Kranial
Saraf I.
Biasanya pada klien multipel sklerosis tidak ada kelainan dan fungsi penciuman
tidak ada kelainan.
Saraf II. Hasil tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan penurunan
ketajaman penglihatan. Sejumlah besar klien menderita ganguan penglihatan
sebagai gejala-gejala awal. Dapat terjadi kekaburan penglihatan, lapang pandang
yang abnormal dengan bintik buta (skotoma) baik pada satu maupun pada kedua
mata. Salah satu mata mungkin mengalami kebutaan total. Gangguan-gangguan visual
ini mungkin diakibatkan oleh neuritis saraf optikus. Lesi pada batang otak yang
menyerang nukleus atau serabut-serabut traktus pada otot-otot ekstraokular dan
nistagmus (gerakan osilasi bola mata yang cepat dalam arah horisontal atau
vertikal).
Saraf III, IV, dan VI. Pada beberapa kasus penyakit multipel sklerosis
biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada saraf ini.
Saraf V. Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf ini.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal.
Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X. Didapatkan kesulitan dalam menelan makanan yang
berhubungan dengan perubahan status kognitif (klien tidak kooperatif).
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan
trapezius.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan
tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan normal.
Sistem Motorik
Kelemahan spastik anggota gerak dengan menifestasi
berbagai gejala meliputi kelemahan anggota gerak pada satu sisi tubuh atau terbagi
secara asimetris pada keempat anggota gerak. Merasa lelah dan berat pada satu
tungkai dan pada waktu berjalan terlihat jelas kaki yang sebelah terseret maju
dan pengontrolannya kurang sekali. Klien dapat mengeluh tungkainya seakan-akan
meloncat secara spontan terutama apabila ia sedang berada di tempat tidur.
Keadaan spastis yang lebih berat disertai dengan spasme otot yang nyeri.
Pemeriksaan Refleks
Refleks tendon hiperaktif dan refleks-refleks abdominal tidak
ada. Respons plantar berupa ekstensor (tanda Babinski). Tanda ini merupakan
indikasi terserangnya lintasan kortikospinal.
Sistem Sensorik
Gangguan sensorik berupa parestesia (baal, perasaan
geli, perasaan “mati”, tertusuk-tusuk jarum dan peniti). Jika lesi terdapat
pada kolumna posterior medulla spinalis servikalis, fleksi leher menyebabkan
sensasi seperti syok (tanda Lhermitte). Gangguan proprioseptif sering
menimbulkan ataksia sensorik dan inkoordinasi lengan. Sensasi getar sering kali
menghilang.
B4 (Bladder)
Disfungsi kandung kemih. Lesi pada traktus
kortikospinalis menimbulkan gangguan pengaturan sfingter sehingga timbul
keraguan untuk berkemih, frekuensi, dan urgensi berkemih yang menunjukkan berkurangnya
kapasitas kandung kemih yang spastis. Kecuali itu juga timbul retensi akut dan
inkontinensia.
B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan
asupan nutrisi yang kurang karena kelemahan fisik umum dan perubahan status
kognitif. Karena penurunan aktivitas umum klien sering mengalami konstipasi.
B6 (Bone)
Pada beberapa keadaan klien multipel sklerosis biasanya
didapatkan adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan spastik anggota
gerak. Kelemahan anggota gerak pada satu sisi tubuh atau berbagi secara asimetris
pada keempat amnggota gerak. Merasa lelah dan berat pada satu tungkai, pada
waktu berjalan terlihat jelas kaki yang sebelah terseret maju dengan
pengontrolan yang kurang sekali. Klien dapat mengeluh tungkainya seakan-akan
meloncat secara spontan terutama apabila ia sedang berada di tempat tidur. Keadaan
spastis yang lebih berat disertai dengan spasme otot yang nyeri. Adanya
gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan karena
perubahan pada gaya
berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma fisik bila
melakukan aktivitas.
Risiko dari multipel sklerosis terhadap sistem ini
berupa komplikasi sekunder seperti risiko kerusakan integritas jaringan kulit (dekubitus)
akibat penekanan setempat dari tirah baring lama, deformitas, kontraktur, dan
edema dependen pada kaki.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan elektroforesis terhadap SSP biasanya
mengungkap adanya ikatan oligoklonal (beberapa pita immunoglobulin gamma
[IgG]), yang menunjukkan abnormalitas immunoglobulin. Dalam kenyataannya,
hampir 95% antibodi IgG normal terlihat di SSP pada klien dengan multipel sklerosis.
Pemeriksaan potensial bangkitan dilakukan untuk membantu memastikan luasnya
proses penyakit dan memantau perubahan.
CT scan dapat menunjukkan atrofi serebri. MRI menjadi
alat diagnostik utama untuk memperlihatkan plak kecil dan untuk mengevaluasi perjalanan
penyakit dan efek pengobatan. Disfungsi kandung kemih yang mendasari diagnosis dengan
pemeriksaan urodinamik. Pengujian neuropsikologis dapat diindikasikan untuk
mengkaji kerusakan kognitif. Riwayat seksual membantu untuk mengidentifikasi hal-hal
kekhawatiran khusus.
Penatalaksanaan Media
Program pengobatan sesuai dengan individu, kelompok, dan
rasional yang menjadi indikasi untuk mengurangi gejala dan memberikan dukungan
secara terus-menerus. Banyak klien multipel sklerosis mengalami keadaan stabil
dan hanya memerlukan pengobatan yang lebih sering yang ditujukan pada
pengontrolan gejala sedangkan yang lain mengalami progresi penyakit yang
mantap.
Farmakoterapi
-
Kortikosteroid
dan ACTH digunakan sebagai agen anti-inflamasi yang dapat meningkatkan konduksi
saraf. Karena mekanisme imun merupakan faktor patogenesis multipel sklerosis,
maka sejumlah agen farmakologik dicoba untuk modulasi respons imun dan
menurunkan kecepatan perkembangan penyakit dan serangan yang sering dan
menurunkan keadaan yang semakin buruk. Obat-obat ini mencakup azatioprin,
siklofosfamid, dan interferon.
-
Beta
interferon (Betaseron) telah disetujui untuk digunakan dalam perjalanan relapsing-remitting.
Betaseron telah diketahui efektif dalam menurunkan secara signifikan jumlah dan
beratnya eksaserbasi akut dengan pemindaian MRI yang menunjukkan area
demielinisasi yang lebih kecil pada jaringan otak. Ini merupakan obat baru yang
dapat menjanjikan untuk pengobatan multipel sklerosis meskipun telah ratusan kali
dicoba.
-
Modalitas
lain (misalnya radiasi, kopolimer 1, dan kladribin) sekarang masih diteliti sebagai
pengobatan yang mingkin untuk bentuk multipel sklerosis progresif.
-
Baklofen sebagai
agen antispasmodik merupakan pengobatan yang dipilih untuk spastisitas. Klien dengan
spastisitas berat dan kontraktur memerlukan blok saraf dan intervensi
pembedahan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut.
Penatalaksanaan Defekasi
dan Berkemih
-
Penatalaksanaan
terhadap kontrol berkemih dan defekasi pada kebanyakan masalah sulit klien.
Umumnya, gejala disfungsi kandung kemih dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu
ketidakmampuan untuk menyimpan urine (hiperefleksi, tidak tertahan),
ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih (hiporefleksi, hipotonik), dan
campuran kedua tipe. Berbagai variasi pengobatan digunakan untuk mengatasi
masalah-masalah ini. Kateterisasi sendiri yang dilakukan secara sering, efektif
digunakan untuk disfungsi kandung kemih.
-
Infeksi saluran
kemih sering terjadi akibat disfungsi neurologis. Asam askorbat dapat diberikan
untuk mengasamkan urine, sehingga menurunkan kemungkinan bakteri untuk
bertumbuh. Antibiotik diberikan bila dibutuhkan.
Diagnosis Keperawatan
1.
Hambatan mobilitas
fisik yang berhubungan dengan kelemahan, paresis, dan spastisitas.
2.
Risiko
tinggi cedera yang berhubungan dengan kerusakan sensorik dan penglihatan,
dampak tirah baring lama, and kelemahan spastis.
3.
Defisit perawatan
diri (makan, minum, berpakaian, higiene) yang berhubungan dengan perubahan
kemampuan merawat diri sendiri, kelemahan fisik spastis.
4.
Perubahan nutrisi
: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak
adekuat.
5.
Perubahan pola
eliminasi urine yang berhubungan dengan kelumpuhan saraf perkemihan.
6.
Risiko
tinggi gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan tirah baring lama.
7.
Perubahan
proses pikir (kehilangan memori, demensia, euforia) yang berhubungan dengan disfungsi
serebri.
8.
Koping
individu tidak efektif yang berhubungan dengan perubahan proses pikir dan fisfungsi
akibat perkembangan penyakit.
9.
Perubahan peran
dalam keluarga.
10.
Hambatan manajemen
pemeliharaan rumah yang berhubungan dengan keterbatasan fisik, psikologis, dan
sosial.
11.
Risiko
terhadap disfungsi seksual yang berhubungan dengan keterlibatan atau reaksi
psikologis terhadap kondisi.
Rencana Intervensi
Sasaran utama untuk klien mencakup peningkatan mobilitas
fisik, menghindari cedera, pencapaian kontinens kandung kemih dan usus,
perbaikan fungsi kognitif, perkembangan kekuatan koping, perbaikan perawatan
diri, dan adaptasi terhadap disfungsi seksual. Program individu terapi fisik,
rehabilitasi, dan pengetahuan dikombinasi dengan dukungan emosi. Intervensi keperawatan
bertujuan meningkatkan pengetahuan klien untuk memungkinkan individu dengan
multipel sklerosis menghadapi masalah fisiologis, sosial dan psikologis yang
menyertai penyakit kronis.
Hambatan mobilitas fisik
yang berhubungan dengan kelemahan, paresis, dan spastisitas.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam, klien mampu melaksanakan
aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil : Klien dapat ikut serta dalam program latihan,
tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot, klien menunjukkan
tindakan untuk meningkatkan mobilitas.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
Kaji secara teratur fungsi motorik.
|
Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
|
Modifikasi peningkatan mobilitas fisik
|
Relaksasi dan koordinasi latihan otot meningkatkan efisiensi otot
pada klien multipel sklerosis. Latihan secara progresif digunakan untuk
menguatkan otot yang lemah karena penurunan kekuatan otot adalah masalah
signifikan untuk klien ini.
|
Anjurkan teknik aktivitas dan teknik istirahat
|
Klien dianjurkan untuk melakukan aktivitas melelahkan dalam waktu singkat.
Latihan fisik yang giat tidak dianjurkan karena hal itu meningkatkan suhu
tubuh dan dapat menimbulkan gejala yang lebih buruk. Lamanya latihan yang
melelahkan ekstremitas dapat menyebabkan paresis, kebas, atau tidak ada
koordinasi. Klien dianjurkan untuk tetap sering beristirahat pada periode
pendek, dan berbaring lebih disukai. Kelelahan yang berlebihan dapat
berhubungan dengan faktor penyebab gejala eksaserbasi.
|
Anjurkan teknik latihan jalan
|
Latihan berjalan meningkatkan gaya berjalan, karena umumnya pada keadaan
tersebut, kaki dan telapak kaki kehilangan sensasi positif. Jika kelompok
otot yang terpengaruh tidak dapat sembuh maka otot-otot lain dapat dicoba
untuk melakukan aksi.
|
Ubah posisi klien tiap 2 jam
|
Menurunkan risiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi
darah yang buruk pada daerah yang tertekan.
|
Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas
yang tidak sakit.
|
Gerakan aktif memberikan massa,
tonus, dan kekuatan otot, serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
|
Lakukan gerak pasif pada ekstremitas yang sakit.
|
Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak
dilatih untuk digerakkan.
|
Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
|
Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
|
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
|
Peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ekstremitas dapat
ditingkatkan dengan latihan fisik dari fisioterapis.
|
Risiko tinggi cedera
yang berhubungan dengan kerusakan sensorik dan penglihatan, dampak tirah
baring lama, dan kelemahan spastis.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam, risiko trauma tidak terjadi.
Kriteria hasil : Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan
trauma, dekubitus tidak terjadi, kontraktur sendi tidak terjadi, klien tidak
jauh dari tempat tidur.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Pertahankan tirah baring dan imobilisasi sesuai indikasi.
|
Meminimalkan rangsang nyeri akibat gesekan antara fragmen tulang
dengan jariongan lunak di sekitarnya.
|
Berikan kacamata yang sesuai pada klien.
|
Tameng mata atau kacamata penutup dapat digunakan untuk memblok
impuls penglihatan pada satu mata bila klien mengalami diplopia (penglihatan
ganda). Kacamata prisma dapat membantu klien yang terbaring di tempat tidur
yang mempunyai kesulitan penglihatan saat membaca dengan posisi telentang.
Individu dengan keterbatasan fisik perlu menghindari membaca bacaan yang
dicetak biasa, hal ini merupakan pilihan untuk bebas dari buku-buku yang berbicara
tentang politik atau dapat diharapkan untuk memperoleh buku-buku dengan tipe
yang banyak tersedia pada perpustakaan lokal.
|
Minimalkan efek imobilitas
|
Karena penurunan aktivitas fisik dan imobilisasi sering terjadi
pada multipel sklerosis, maka komplikasi yang dihubungkan dengan imobilisasi
(tidak melakukan mobilisasi) mencakup dekubitus dan langkah untuk
mencegahnya. Penanganan untuk mencegah komplikasi berupa pengkajian dan
mempertahankan integritas kulit dan latihan napas dalam serta batuk.
|
Modifikasi pencegahan cedera
|
Pencegahan cedera dilakukan pada klien multipel sklerosis jika
disfungsi motorik menyebabkan masalah akibat tidak adanya koordinasi dan
adanya kekakuan, atau jika ataksia ada, klien berisiko jatuh.
|
Modifikasi lingkungan
|
Untuk mengatasi ketidakmampuan, klien dianjurkan untuk berjalan
dengan kaki pada ruang yang luas untuk menyediakan dasar yang luas dan untuk
meningkatkan kemampuan berjalan dengan stabil.
|
Ajarkan teknik berjalan
|
Jika kehilangan sensasi terhadap posisi tubuh, klien dianjurkan
untuk melihat kaki sambil berjalan. Berjalan dengan langkah cepat dicoba
dengan alat Bantu (walker, tongkat, brace, kruk, pegangan parallel) dan
terapi fisik. Jika gaya
berjalan tetap tidak efisien, kursi roda atau motor skuter menjadi pilihan
penyelesaian.
|
Berikan terapi okupasi
|
Terapi okupasi merupakan sumber yang membantu individu dalam
memberi anjuran dan menjamin bantuan untuk meningkatkan kemandirian. Jika
tidak ada koordinasi dan tremor ekstremitas atas terjadi ketika gerakan volunter
diupayakan (tremor intensi), gelang pemberat atau manset pada pergelangan
tangan dapat menolong. Klien dilatih untuk berpindah dan melakukan aktivitas
sehari-hari.
|
Minimalkan risiko dekubitus
|
Karena hilangnya sensorik dapat menyebabkan bertambahnya
kehilangan gerakan motorik, dekubitus terus diatasi untuk integritas kulit.
Penggunaan kursi roda meningkatkan risiko.
|
Inspeksi kulit bagian distal setiap hari. Pantau kulit dan membran
mukosa terhadap iritasi, kemerahan atau luka.
|
Deteksi dini adanya gangguan sirkulasi dan hilangnya sensasi
risiko tinggi kerusakan integritas kulit kemungkinan komplikasi imobilisasi.
|
Meminimalkan spastisitas dan kontraktur
|
Spastisitas otot biaa terjadi pada tahap lanjut, yang terlihat
dalam bentuk spasme adduktor yang berat pada pinggul, dengan spasme fleksor
pada pinggul dan lutut. Jika tidak berkurang maka kontraktur fibrosa pada
sendi ini diakibatkan oleh adanya dekubitus yang terjadi pada daerah sacrum
dan pinggul (karena ketidakmampuan klien mengatur posisi dengan benar).
Kantung hangat mungkin menguntungkan, tetapi mandi panas harus dihindari
karena berisiko terhadap terjadinya luka bakar sekunder akibat adanya
kehilangan sensorik dan risiko meningkatnya gejala yang berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh.
|
Ajarkan teknik latihan
|
Latihan setiap hari untuk menguatkan otot diberikan untuk
meminimalkan kontraktur sendi. Perhatian khusus diberikan pada otot-otot
paha, otot gastroknemeus, adduktor, biseps, pergelangan tangan, serta fleksor
jari-jari. Spastisitas otot biasanya terjadi dan mengganggu fungsi normal.
Latihan rutin dengan regang-tahan-rileks otot-otot dapat membantu relaksasi
dan memperbaiki spastisitas otot. Berenang dan sepeda stasionari dapat
dilakukan dan menahan beban dengan berat yang perlahan-lahan ditambah dapat
mengurangi spastisitas kaki. Klien tidak harus terburu-buru dalam melakukan
aktivitas ini, karena spastisitas ini sering meningkat.
|
Pertahankan sendi 90° terhadap papan kaki
|
Telapak kaki dalam posisi 90° dapat mencegah terjadinya footdrop.
|
Evaluasi tanda/gejala perluasan cedera jaringan (peradangan
lokal/sistemik peningkatan nyeri, edema, demam)
|
Menilai perkembangan masalah klien.
|
Risiko tinggi gangguan integritas
kulit yang berhubungan dengan tirah baring lama.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, klien mampu mempertahankan
keutuhan kulit.
Kriteria hasil : Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan
luka, mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka, tidak ada tanda-tanda
kemerahan atau luka, kulit kering.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Anjurkan untuk melakukan latihan ROM dan mobilisasi jika mungkin.
|
Meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh.
|
Ubah posisi tiap 2 jam.
|
Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah.
|
Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah
(tulang) yang menonjol.
|
Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah (tulang) yang
menonjol.
|
Lakukan masase pada daerah (tulang) yang menonjol yang baru
mengalami tekanan pada waktu berubah posisi.
|
Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler.
|
Bersihkan dan keringkan kulit. Jagalah tenun tetap kering.
|
Meningkatkan integritas kulit dan mengurangi risiko kelembapan
kulit.
|
Observasi terhadap eritema dan kepucatan. Palpasi area terhadap
kehangatan dan pelunakan jaringan setiap mengubah posisi.
|
Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan.
|
Jaga kebersihan kulit, seminimal mungkin hindari trauma dan panas
terhadap kulit.
|
Mempertahankan keutuhan kulit.
|
Perubahan pola eliminasi
urine yang berhubungan dengan kelumpuhan saraf perkemihan.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam pemenuhan eliminasi urine
terpenuhi.
Kriteria hasil : Pemenuhan eliminasi urine dapat dilaksanakan
dengan/tidak menggunakan kateter, produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi
urine tidak ada.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Kaji pola berkemih dan catat produksi urine tiap 6 jam.
|
Mengetahui status fungsi ginjal
|
Tingkatkan kontrol berkemih :
-
Berikan
dukungan pada klien tentang pemenuhan eliminasi urine.
-
Modifikasi
kebutuhan untuk berkemih
-
Lakukan
jadwal berkemih
-
Ukur
jumlah urine tiap 2 jam.
-
Bantu
cara penggunaan obat-obatan
-
Ajarkan
penggunaan kateter intermiten
|
Klien dengan gangguan berkemih : sering berkemih, dorongan, atau
inkontinensia memerlukan dukungan khusus. Sensasi terhadap kebutuhan untuk
berkemih harus diperhatikan dengan segera, sehingga bedpan atau urinal harus siap
pakai.
Jadwal berkemih diatur (awalnya setiap 1,5-2 jam, dengan
perpanjangan interval waktu bertahap). Klien diinstruksikan untuk mengukur jumlah
air yang diminum setiap 2 jam dan mencoba untuk berkemih 30 menit setelah
minum. Gunakan jam atau jam tangan dengan alarm sehingga dapat membantu klien
yang tidak mempunyai cukup sensasi untuk memberi tanda waktu pengosongan kandung
kemih. Perawat membantu klien untuk menentukan penggunaan obat-obatan untuk
mengatasi spastisitas kandung kemih, sehingga memungkinkan kemandirian yang
lebih besar. Kateterisasi intermiten yang dilakukan sendiri paling sukses
dalam mempertahankan kontrol kandung kemih. Jika klien wanita, prosedur
diversi urinarius dapat dipertimbangkan. Klien pria dapat menggunakan kateter
kondom untuk penampungan urine.
|
Palpasi kemungkinan adanya distensi kendung kemih.
|
Menilai perubahan akibat dari inkontinensia urine.
|
Anjurkan klien untuk minum 2000 cc/hari
|
Membantu mempertahankan fungsi ginjal
|
Perubahan eliminasi :
konstipasi yang berhubungan dengan gangguan saraf pada usus dan rektum,
imobilisasi, asupan cairan tidak adekuat.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam terjadi perilaku terpenuhinya
eliminasi alvi.
Kriteria hasil : Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar
tanpa menggunakan obat, konsistensi feses lembek berbentuk, tidak teraba masa
pada kolon (scibala), bising usus normal (15-30x/menit)
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab
konstipasi.
|
Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab konstipasi.
|
Observasi adanya distensi perut. Catat adanya keluhan mual dan
ingin muntah.
|
Pendarahan gastrointestinal dan lambung mungkin terjadi akibat trauma
dan stres.
|
Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya.
|
Bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik. Penurunan
bising usus mungkin ada selama syok spinal.
|
Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung serat.
|
Diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan
eliminasi reguler.
|
Bila klien mampu minum, berikan intake cairan yang cukup (2
liter/hari) jika tidak ada kontraindikasi.
|
Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses
yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler.
|
Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien.
|
Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki
tonus otot abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik.
|
Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laksatif,
supositoria, enema).
|
Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang
melunakkan massa
feses dan membantu eliminasi.
|
Kerusakan komunikasi
verbal yang berhubungan dengan disatria, ataksia serebri sekunder dari
kerusakan serebri.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, klien menggunakan komunikasi yang
efektif sesuai dengan kondisinya.
Kriteria hasil : Membuat teknik/metode komunikasi yang dapat
dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi.
|
Gangguan bicara terjadi pada banyak klien yang mengalami penyakit
multipel sklerosis. Bicara mereka yang lemah, monoton, halus, menuntut
kesadaran berupaya untuk bicara dengan lambat, dengan penekanan perhatian pada
apa yang mereka katakan.
|
Menentukan cara-cara komunikasi seperti mempertahankan kontak mata,
pertanyaan dengan jawaban ya/tidak, menggunakan kertas dan pensil/ bolpoin,
gambar, atau papan tulis, bahasa isyarat, perjelas arti dari komunikasi yang
disampaikan.
|
Mempertahankan kontak mata akan membuat klien tertarik selama
komunikasi, jika klien dapat menggerakkan kepala, mengedipkan mata, atau
senang dengan isyarat-isyarat sederhana, lebih baik guna pertanyaan ya/tidak.
Kemampuan menulis kadang-kadang melelahkan klien, selain itu dapat
mengakibatkan frustasi dalam upaya memenuhi kebutuhan komunikasi. Keluarga dapat
bekerja sama untuk membantu memenuhi kebutuhan klien.
|
Buatlah catatan di kantor perawatan tentang keadaan klien yang tak
dapat berbicara.
|
Mengingatkan staf perawat untuk berespons dengan klien selama
memberikan perawatan.
|
Buat rekaman pembicaraan klien.
|
Rekam pembicaraan klien dalam pita kaset secara periodik, hal ini
dibutuhkan dalam memantau perkembangan klien. Amplifier kecil membantu bila
klien mengalami kesulitan mendengar.
|
Anjurkan keluarga/orang lain yang dekat dengan klien untuk
berbicara dengan klien, memberikan informasi tentang keluarganya dan keadaan
yang sedang terjadi.
|
Keluarga dapat merasakan akrab dengan klien, berada dekat klien
selama berbicara. Pengalaman ini dapat membantu/mempertahankan kontak nyata
seperti merasakan kehadiran anggota keluarga yang dapat mengurangi perasaan
kaku.
|
Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa.
|
Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu dalam membentuk
peningkatan latihan percakapan dan membantu petugas kesehatan untuk
mengembangkan metode komunikasi untuk memenuhi kebutuhan klien.
|
Perubahan nutrisi :
kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak
adekuat.
|
|
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam, kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil : Klien mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi
tubuh, memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Evaluasi kemampuan makan klien.
|
Klien mengalami kesulitan dalam mempertahankan berat badan mereka.
Mulut mereka kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan
menelan.
Klien berisiko terjadi aspirasi akibat penurunan refleks
|
Observasi/timbang berat badan jika memungkinkan.
|
Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan asupan nutrisi
menunjang terjadinya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam otot dan
kepekaan terhadap pemasangan ventilator.
|
Manajemen mencapai kemampuan menelan :
1.
Gangguan
menelan disebabkan oleh tremor pada lidah, ragu-ragu dalam memulai menelan,
kesulitan dalam membentuk makanan dalam bentuk bolus.
2.
Makanan setengah
padat dengan sedikit air memudahkan untuk menelan.
3.
Klien
dianjurkan untuk menelan secara berurutan.
4.
Klien
diajarkan untuk meletakkan makanan di atas lidah, menutup bibir dan gigi, dan
menelan.
5.
Klien
dianjurkan untuk mengunyah pertama kali pada satu sisi mulut dan kemudian ke
sisi lain.
6.
Untuk
mengontrol saliva, klien dianjurkan untuk menahan kepala tetap tegak dan
membuat keadaan sadar untuk menelan.
7.
Masase
otot wajah dan leher sebelum makan dapat membantu.
8.
Berikan
makanan kecil dan lunak.
|
Meningkatkan kemampuan klien dalam menelan dan dapat membantu
pemenuhan nutrisi klien via oral. Tujuan lain adalah mencegah terjadinya
kelelahan, memudahkan masuknya makanan, dan mencegah gangguan pada lambung.
|
Anjurkan pemberian cairan 2500 cc/hari selama tidak terjadi
gangguan jantung.
|
Mencegah terjadinya dehidrasi akibat penggunaan ventilator selama
klien tidak sadar dan mencegah terjadinya konstipasi.
|
Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindikasikan, seperti
serum, transferin, BUN/Kreatinin, dan glukosa
|
Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang
dibutuhkan klien.
|
Defisit perawatan diri
(makan, minum, berpakaian, higiene) yang berhubungan dengan perubahan
kemampuan merawat diri sendiri, kelemahan fisik spastis.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, terjadi peningkatan dalam
perilaku perawatan diri.
Kriteria hasil : Klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk
kebutuhan merawat diri dan mengidentifikasi personal/keluarga yang dapat
membantu.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Mandiri
Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0-4 untuk
melakukan ADL.
|
Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan
individual.
|
Modifikasi perbaikan perawatan diri.
|
Multipel sklerosis dapat mempengaruhi setiap segi kehidupan
sehari-hari. Bila salah satu kemampuan hilang, mereka mungkin tidak akan memperoleh
kemampuan itu kembali. Kemampuan fisik dapat bervariasi dari hari ke hari.
Modifikasi yang memungkinkan kemandirian dalam perawatan diri harus dilakukan
(meninggikan dudukan toilet, alat bantu mandi, modifikasi telepon, gagang sisir
panjang, penjepit, pakaian yang dimodifikasi). Stress fisik dan emosional
harus dihindari bila memungkinkan, karena hal ini dapat menimbulkan gejala
yang buruk dan mengganggu perilaku. Adanya panas akan meningkatkan kelelahan dan
kelemahan otot. Penggunaan AC (air conditioning) direkomendasikan sedikitnya
untuk satu ruangan. Pemajanan pada suhu dingin ekstrem dapat meningkatkan
spastisitas. Dianjurkan perawatan kesehatan kontinu dan tindak lanjut.
|
Hidari apa yang tidak dapat dilakukan klien dan Bantu bila perlu.
|
Klien dalam keadaan cemas dan bergantung pada orang lain. Hal ini
dilakukan untuk mencegah frustasi dan merendahkan harga diri klien.
|
Ajarkan dan dukung klien selama aktivitas.
|
Dukungan pada klien selama aktivitas kehidupan sehari-hari dapat
meningkatkan perawatan diri.
|
Rencana tindakan untuk mengatasi defisit motorik seperti tempatkan
makanan dan peralatan di dekat klien agar mampu sendiri mengambilnya.
|
Klien akan mampu melakukan aktivitas sendiri untuk memenuhi
perawatan dirinya
|
Modifikasi lingkungan.
|
Modifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi
ketidakmampuan fungsi.
|
Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur
|
Gunakan pagar di sekeliling tempat tidur baik tempat tidur di
rumah sakit dan di rumah, atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat
tidur untuk memberi bantuan dalam mendorong diri untuk bangun tanpa bantuan
orang lain serta mencegah klien mengalami trauma
|
Kaji kemampuan komunikasi untuk berkemih. Kemampuan mengunakan
urinal, pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan.
|
Ketidakmampuan berkomunikasi dengan perawat dapat menimbulkan
masalah pengosongan kandung kemih oleh karena masalah neurogenik.
|
Identifikasi kebiasaan defekasi. Anjurkan minum dan meningkatkan aktivitas.
|
Meningkatkan latihan dan menolong, mencegah konstipasi.
|
Kolaborasi
Pemberian supositoria dan pelumas feses/pencahar.
|
Pertolongan utama terhadap fungsi bowel atau berkemih.
|
Konsultasi ke dokter terapi okupasi.
|
Untuk mengembangkan terapi dan melengkapi kebutuhan khusus.
|
Koping individu tidak
efektif yang berhubungan dengan perubahan proses pikir dan disfungsi akibat
perkembangan penyakit.
|
|
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam, koping individu menjadi efektif.
Kriteria hasil : Klien mampu menyatakan atau mengomunikasikan
dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi,
mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui dan menggabungkan
perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang
negatif.
|
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
Mandiri
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat
ketidakmampuan
|
Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan
atau pemilihan intervensi.
|
Dukung kemampuan koping.
|
Kepatuhan terhadap program latihan dan berjalan membantu
memperlambat kemajuan penyakit. Dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan
melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan
mempertahankan partisipasi aktif.
|
Catat ketika klien menyatakan terpengaruh akan penyakitnya seperti
sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian.
|
Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negatif
terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan
intervensi serta dukungan emosional.
|
Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali
fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit
dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
|
Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian
sebagai bagian dari seluruh tubuh klien. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya
harapan dan mulai menerima situasi baru.
|
Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari.
|
Bentuk program aktivitas pada keseluruhan hari untuk mencegah
waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah pada tidak adanya keinginan
dan apatis. Setiap upaya dibuat untuk mendukung klien keluar dari tugas-tugas
yang termasuk koping dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk
klien mandiri. Apapun yang dilakukan hanya untuk keamanan sewaktu mencapai
tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping.
|
Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan
sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya.
|
Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan
harga harga diri serta mempengaruhi proses rehabilitasi.
|
Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi
dalam aktivitas rehabilitasi.
|
Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang
peran individu masa mendatang.
|
Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi,
dan withdrawal.
|
Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai
pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut.
|
Diskusikan mengenai proses adaptasi klien bila mengalami disfungsi
seksual bersama dengan pasangannya.
|
Klien multipel sklerosis dan pasangan mereka memperlihatkan
masalah yang berhubungan dengan aktivitas seksual, yang meningkat bukan hanya
pada kerusakan saraf sebagai konsekuensi langsung tetapi juga dari reaksi psikologis
terhadap penyakit. Keadaan mudah lelah, konflik yang timbul dari
ketergantungan dan depresi, emosi yang labil, hilangnya harga diri, dan
perasaan makna diri menimbulkan masalah. Gangguan ereksi dan ejakulasi pada
pria dan disfungsi orgasme, dan spasme adduktor otot paha pada wanita dapat
membat hubungan seksual menjadi sulit dan tidak mungkin dilakukan.
Inkontinensia urine dan defekasi dan infeksi saluran kemih menambah kesulitan
dalam melaksanakan aktivitas tersebut.
|
Kolaborasi
Dengan konselor seksual.
|
Konselor seksual yang berpengalaman membantu masuk ke dalam fokus
klien atau sumber seksual pasangannya dan mendapatkan informasi yang relevan
serta terapi pendukung. Berbagi dan mengomunikasikan perasaan, merencanakan
aktivitas seksual (tanpa kelelahan), melatih keinginan seksual yang berbeda
dan mengungkapkan hilangnya keinginan dapat membuka lebih luas kenikmatan
akan pengalaman seksual.
|
Rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.
|
Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk
perkembangan peraaan. Kerja sama fisioterapi, psikoterapi, terapi
obat-obatan, dan dukungan partisipasi kelompok dapat menolong mengurangi
depresi yang juga sering muncul pada keadaan ini.
|



Komentar
Posting Komentar